A.
Pengertian
Doktrin
Kata doktrin yang kita kenal saat ini adalah kata yang pada
dasarnya merupakan kata yang diadopsi dari bahasa inggris yaitu doctrine yang
berarti ajaran . Oleh karena itu doktrin lebih dikenal dengan dengan
ajaran-ajaran yang bersifat absolute yang tidak boleh diganggu-gugat. Dalam
Kamus Ilmiah Populer (Windi Novia, 2008), kata doktrin berarti dalil-dalil dari
suatu ajaran. Kesesuaian pengertian ini dapat kita temukan di lapangan bahwa
suatu ajaran dalam agama maupun yang lainya pasti mempunyai dasar atau
dalil-dalil.
Pengertian yang sama juga dapat ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, yaitu “doktrin adalah ajaran atau asas suatu aliran politik,
keagamaan; pendirian segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan,
ketatanegaraan secara bersistem, khususnya dlm penyusunan kebijakan negara”.
Dari penjelasan yang telah diuraikan di atas dapat kami simpulkan bahwa doktrin
adalah ajaran-ajaran atau pendirian suatu agama atau aliran atau segolongan
ahli yang tersusun dalam sebuah sistem yang tidak bisa terpisahkan antara yanga
satu dengan yang lainnya.
Dalam Islam
terdapat 3 doktrin :
1.
Iman
Iman (bahasa
Arab:الإيمان) secara etimologis berarti 'percaya'.
Perkataan iman (إيمان) diambil dari kata kerja 'aamana' (أمن) -- yukminu' (يؤمن) yang berarti 'percaya' atau 'membenarkan'.
Iman secara
bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman
adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota
badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat".
Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman
bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan
berkurang". Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam
Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama
selainnya.
Dengan demikian
definisi iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan amal
perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.
“Agar bertambah keimanan mereka di atas keimanan mereka yang sudah
ada.”
—QS. Al Fath [48] : 4
Imam Syafi’i
berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan
bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab
kemaksiatan.” Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia
bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan
amal.” Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu
orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka
berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan
berkurang.”
Perkataan iman
yang berarti 'membenarkan' itu disebutkan dalam al-Quran, di antaranya dalam
Surah At-Taubah ayat 62 yang bermaksud: "Dia (Muhammad) itu membenarkan
(mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman."
Iman itu ditujukan kepada Allah , kitab kitab dan Rasul. Iman itu ada dua Iman
Hak dan Iman Batil.
Definisi Iman
berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan
merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan
dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah
mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama,
maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang
memiliki prinsip. atau juga pandangan dan sikap hidup.
Para imam dan
ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan
oleh Imam Ali bin Abi Talib: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan
yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota." Aisyah r.a. berkata:
"Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati
dan mengerjakan dengan anggota." Imam al-Ghazali menguraikan makna iman:
"Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan
mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."
Jadi,dapat di
simpukan,seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna
apabila memenuhi unsur unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam
hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan
dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan
sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, unsur unsur keimanan tersebut merupakan
satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Keimanan adalah
hal yany paling mendasar yang harus dimiliki seseorang. Allah memerintahkan
agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan
RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada
RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari
kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa :
136).
2.
Islam
Islam berasal dari kata Arab "aslama-yuslimu-islaman"
yang secara kebahasaan berarti "menyelamatkan", misal teks
"assalamu alaikum" yang berarti "semoga keselamatan menyertai
kalian semuanya". Islam atau Islaman adalah masdar (kata benda) sebagai
bahasa penunjuk dari fi'il (kata kerja), yaitu "aslama" bermakna
telah selamat (kala lampau) dan "yuslimu" bermakna
"menyelamatkan" (past continous tense).
Kata triliteral semitik 'S-L-M' menurunkan beberapa istilah
terpenting dalam pemahaman mengenai keislaman, yaitu Islam dan Muslim.
Kesemuanya berakar dari kata Salam yang berarti kedamaian.[7] Kata Islam lebih
spesifik lagi didapat dari bahasa Arab Aslama, yang bermakna "untuk
menerima, menyerah atau tunduk" dan dalam pengertian yang lebih jauh
kepada Tuhan.[8]
Dengan demikian, Islam berarti
penerimaan dari dan penyerahan diri kepada Tuhan, dan penganutnya harus
menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari
politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur’an. Dalam
beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa
yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..."Ayat lain menghubungkan
Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada
hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." Namun masih
ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada
Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.
Kepercayaan dasar Islam dapat
ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"),
yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan
rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain
Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah".
Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian
Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat
persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status
sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).
Kaum Muslim percaya bahwa Allah
mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad
sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur'an dan Sunnah (setiap
perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang
fundamental. Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru,
melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan
kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan
bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan setelah kepergian para nabinya telah
membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks
dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.
Umat Islam juga meyakini al-Qur'an
yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril
adalah sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah 2:2). Di dalam
al-Qur'an Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga
akhir zaman.
Adapun sebagaimana dinyatakan dalam
al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab
suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil dan
suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu sebelum
Muhammad.[14] Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman
Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di
atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah
yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Umat Islam meyakini bahwa agama yang
dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu
agama yang sama dengan (tauhid|satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu
saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya
seorang muslim.[15][16] Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan
Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam
al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering direferensikan sebagai Ahli Kitab
atau orang-orang yang diberi kitab.
3.
Ihsan
Ihsan (bahasa Arab: احسان) adalah kata dalam bahasa Arab yang
berarti "kesempurnaan" atau "terbaik". Dalam istilah agama
Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya,
dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut
membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Ihsan terbagi menjadi dua macam:
ò
Ihsan
di dalam beribadah kepada Sang Pencipta (Al-Khaliq)
Dalam
bagian ini ihsan ada dua tingkatan yaitu;
a)
Kamu
beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, ini adalah ibadah dari
seseorang yang mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya. Dan keadaan ini merupakan
tingkatan ihsan yang paling tinggi, karena dia berangkat dari sikap
membutuhkan, harapan dan kerinduan. Dia menuju dan berupaya mendekatkan diri
kepada-Nya.
b)
Jika
kamu tidak mampu beribadah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia
melihatmu, dan ini ibadah dari seseorang yang lari dari adzab dan siksanya. Dan
hal ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama, karena sikap
ihsannya didorong dari rasa diawasi, takut akan hukuman.
Maka suatu
ibadah dibangun atas dua hal ini, puncak kecintaan dan kerendahan, maka
pelakunya akan menjadi orang yang ikhlas kepada Allah. Dengan ibadah yang
seperti itu seseorang tidak akan bermaksud supaya di lihat orang (riya'), di
dengar orang (sum'ah) maupun menginginkan pujian dari orang atas ibadahnya
tersebut. Tidak peduli ibadahnya itu nampak oleh orang maupun tidak diketahui
orang, sama saja kualitas kebagusan ibadahnya. Muhsinin (seseorang yang berbuat
ihsan) akan selalu membaguskan ibadahnya disetiap keadaan.
ò
Ihsan
kepada makhluk ciptaan Allah
Ihsan
kepada makhluk ciptaan Allah dalam empat hal, yaitu:
a)
Harta
Yaitu dengan
cara berinfak, bersedekah dan mengeluarkan zakat. Jenis perbuatan ihsan dengan
harta yang paling mulia adalah mengeluarkan zakat karena dia termasuk di dalam
Rukun Islam. Kemudian juga nafkah yang wajib diberikan kepada orang-orang yang
menjadi tanggung jawabnya seperti istri, anak, orang-tua, dll. Kemudian sedekah
bagi orang miskin dan orang yang membutuhkan lainnya.
b)
Kedudukan
Manusia itu
bertingkat-tingkat jabatannya. Sehingga apabila dia memiliki kedudukan yang
berwenang maka digunakannya untuk membantu orang lain dalam hal menolak bahaya
ataupun memberikan manfaat kepada orang lain dengan kekusaannya tersebut.
c)
Ilmu
Yakni
memberikan ilmu bermanfaat yang diketahuinya kepada orang lain, dengan cara
mengajarkannya.
d)
Badan
Yakni menolong
seseorang dengan tenaganya. membawakan barang-barang orang yang keberatan,
mengantarkan orang untuk menunjukan jalan, dan ini termasuk bentuk sedekah dan
bentuk ihsan kepada makhluk Tuhan.
Nah tiga doktrin itulah yang menjadi dasar dan patokan dalam Islam.
Triologi doktrin Islam itu pun bersifat hierarkis dan berbentuk piramidal.
Karena tiga doktrin itu merupakan sebuah sistem, yang terdiri dari
bagian-bagian, setiap bagian itu memiliki fungsi dan peran masing-masing, serta
antara bagian yang stu dengan yang lainnya saling berkaitan erat dan absolut.
Jika seseorang ingin memeluk agama islam, maka hal pertama yang harus dia
lakukan adalah meyakini, dan mempercayai islam itu sendiri, kemudian barulah
jika sudah yakin maka dia akan menyerahkan dirinya seutuhnya pada islam,
menyerahkan dirinya pada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhaq untuk di
Ibadati, dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya, baru setelah itu akan terpatri dalam hati kebaikan (Ihsan), Ihsan
berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia
tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa
sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.